Saat ini semua aktivitas hanya boleh dilakukan
dirumah aja karena terjadinya wabah virus dari covid-19 sehingga seluruh
aktivitas apapun bahkan perkuliahan terpaksa dihentikan sementara sampai waktu
permasalahan wabah covid-19 ini selesai. Selama mahasiswa dirumahkan aktivitas
perkuliahan pun dilakukan secara online. Ada beberapa waktu luang yang tidak
digunakan selama berada dirumah, memang membuat kita merasa jenuh dan bosan.
Agar tidak merasa jenuh dan bosan, saya mengisi waktu luang saya dirumah dengan
melakukan hal yang asik dan menarik dengan belajar sinematografi.
Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa
Inggris Cinematography yang berasal dari bahasa Latin kinema 'gambar'. Sinematografi
sebagai ilmu terapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang teknik
menangkap gambar dan menggabung-gabungkan gambar tersebut sehingga menjadi
rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide (dapat mengemban cerita).
Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap
pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannyapun
mirip. Perbedaannya, peralatan fotografi menangkap gambar tunggal, sedangkan
sinematografi menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi
memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan
rangkaian gambar.
Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan
teknik perangkaian gambar atau dalam sinematografi disebut montase
(montage).Sinematografi sangat dekat dengan film dalam pengertian sebagai media
penyimpan maupun sebagai genre seni. Film sebagai media penyimpan adalah pias
(lembaran kecil) selluloid yakni sejenis bahan plastik tipis yang dilapisi zat
peka cahaya. Benda inilah yang selalu digunakan sebagai media penyimpan di awal
pertumbuhan sinematografi. Film sebagai genre seni adalah produk sinematografi.
Cara saya belajar sinematografi dengan menonton film
yang berjudul “Inception”. Film ini merupakan film yang sangat keren dan wajib
untuk ditonton. Synopsis film ini bercerita tentang Dom Cobb (Leonardo
DiCaprio) merupakan seorang pencuri handal dan memiliki kemampuan unik tidak
seperti pencuri-pencuri lainnya. Kemampuan Dom dalam seni ekstraksi ini membuat
Dom mencuri barang dari korbannya melalui alam bawah sadar. Kemampuan Dom yang
langka ini membuatnya didambakan oleh dunia baru spionase korporat yang
berbahaya. Namun hal ini juga menjadikan Dom sebagai buronan internasional dan
harus mengorbankan semua hal yang dia cintai. Kali ini, Dom mendapat tawaran
sebagai kesempatan untuk penebusan kesalahan. Dom harus menyelesaikan satu
pekerjaan yang dapat mengembalikan hidupnya seperti sedia kala.
Salah satu film revolusioner bagaimana kita bisa
membajak mimpi ini memenangkan Best Cinematography untuk sinematografer Wally
Pfister dan juga Best Visual Effect dalam ajang Oscar. Sinematografi kelas
dunia ditunjukan oleh Wally dalam film ini, bagaimana membuat Inception menjadi
film yang sangat intens dan mengagumkan dalam visualnya.
Menurut analisis saya mengenai film ini dilihat
dari bentuk ceritanya, ada banyak sekali adegan flashback atau bahkan
adegan-adegan ketika tokoh masuk ke dalam sebuah mimpi. Tetapi bahkan tanpa
adanya fade in fade out ataupun transisi dalam perpindahan scene itu kita tetap
bisa mengerti bahwa saat itu adegan telah berpindah ke scene yang lain. Itulah
kenapa penonton haruslah benar-benar mencermati film ini, karena ketika fokus
kita teralihkan sedangkan cerita tengah berpindah ke scene lain, dan bahwa poin
penting dalam memahami perubahan adegan itu adalah dengan mencermati adegan
tepat pada shot sebelumnya ketika adegan di cut ke shot lain, maka bisa
dipastikan kita akan kehilangan arah mengenai kemana dan dimana adegan tersebut
terjadi.
Cut dalam film Inception juga membantu penonton
untuk memahami bahwa semua yang terjadi di setiap adegan bukan hanya sebuah
mimpi atau bayangan masa lalu seperti yang diungkapkan film ini, tetapi film
ini ingin mengajak penontonnya untuk merasakan semua pengalaman secara nyata
bukan seolah sedang berada di dalam film. Itu juga ditunjang oleh penggunaan
cut tanpa transisi dari satu adegan ketika masih di masa kini kemudian
berpindah ke masa lalu atau bahkan ke dalam mimpi. Dengan penggunaan Cut kita
jadi merasa bahwa ketika adegan diceritakan sedang berada di dalam mimpi yang
kita rasakan bukan berada di dalam mimpi, tetapi tetap berada di dalam
kehidupan nyata.
Penggunaan transisi pada film ini ditambahkan
untuk menekankan unsur dramatiknya bukan untuk penegasan bahwa waktu atau scene
pada adegan telah berubah. Hal ini bisa dilihat dari tidak munculnya
transisi-transisi ketika tokoh tengah berpindah dari kondisi sadar ke alam
bawah sadar tetapi ada di bagian lain yang memunculkan bagian tersebut. Jika
dilihat secara sekilas, bisa dibilang hal itu menghilangkan kekonsistenan dalam
perpindahan scenenya, tetapi jika dilihat dari pola ceritanya, munculnya
transisi dikarenakan emosi yang dialami pemainnya. Adegan ketika Cobb pada
adegan ia akan melakukan tidur di dalam kamar hotel pada mimpi tingkat kedua
dan di bagian itu ia terus-menerus mendapat gambaran mengenai waktu terakhir
sebelum Mal bunuh diri, kemudian tiba-tiba terjadi transisi dan ia berada di
atas gurun salju sebenarnya hanya untuk memperlihatkan bahwa saat itu kendali
emosi yang dialami Cobb sedang dalam level yang tinggi sehingga bisa
membahayakan timnya pada saat itu. Emosi yang ia rasakan kemudian ditabrakan
pada transisi yang menandakan bahwa ia tiba-tiba kehilangan kesadaran dan
langsung berada di gurun pasir. Adegan serupa tidak selalu terjadi di adegan
lainnya ketika tokoh berpindah kea lam mimpi karena pada adegan yang lain tidak
ada pergulatan emosi selama transisi itu berlangsung. Adapula penggunaan
transisi dengan tujuan yang sama yaitu di bagian akhir ketika semua orang disentakkan
untuk dibangunkan kembali. Selain didukung oleh musik yang dijadikan backsound
pada proses tersebut, munculnya ritme yang cepat dan cerita dimana waktu
menjadi pusat penceritaan membuat cerita menjadi tegang, sehingga transisi
hanya digunakan untuk memberikan penekanan pada ketengan tersebut bukan secara
sengaja digunakan sebagai jembatan perpindahan waktu.
Sedangkan fade in dan fade out tetap tidak digunakan
hingga akhir cerita bahkan ketika cerita telah mencapai titik penghabisan
cerita. Fade in atau fade out memberikan kesan adanya unsur ‘lebih lambat’ dari
ritme penceritaan, tetapi Inception menggunakan ritme yang sangat cepat dalam
penceritaannya sehingga memang harus benar-benar harus ikut berlari dalam
mengikuti iramanya, itulah kenapa fade tidak digunakan sebagai transisi. Pada
bagian akhir cerita ketika memasuki bagian credit title sekalipun tidak ada
transisi wipe tetapi justru cut yang cepat yang digunakan dimana pada bagian
tersebut ingin menekankan sebuah solusi yang harus dengan cepat diambil oleh
penontonnya dan untuk memberikan dampak shock secara tiba-tiba.
Mempelajari sinematografi dengan menonton film
ini sangat asik dan recommended banget. Buat kalian yang belum menonton film
ini sangat wajib untuk kalian tonton.



Tulisannya bagus, tapi gak sesuai dg tema tugas yg saya minta Karan. Yg saya minta ttg cara kreatif belajar sinematografi bukan minta menganalisis film...
ReplyDelete