Monday, April 6, 2020

Cara yang mengisi waktu #dirumahaja dengan belajar sinematografi


Saat ini semua aktivitas hanya boleh dilakukan dirumah aja karena terjadinya wabah virus dari covid-19 sehingga seluruh aktivitas apapun bahkan perkuliahan terpaksa dihentikan sementara sampai waktu permasalahan wabah covid-19 ini selesai. Selama mahasiswa dirumahkan aktivitas perkuliahan pun dilakukan secara online. Ada beberapa waktu luang yang tidak digunakan selama berada dirumah, memang membuat kita merasa jenuh dan bosan. Agar tidak merasa jenuh dan bosan, saya mengisi waktu luang saya dirumah dengan melakukan hal yang asik dan menarik dengan belajar sinematografi. 

Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa Inggris Cinematography yang berasal dari bahasa Latin kinema 'gambar'. Sinematografi sebagai ilmu terapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung-gabungkan gambar tersebut sehingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide (dapat mengemban cerita). Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannyapun mirip. Perbedaannya, peralatan fotografi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar.

Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik perangkaian gambar atau dalam sinematografi disebut montase (montage).Sinematografi sangat dekat dengan film dalam pengertian sebagai media penyimpan maupun sebagai genre seni. Film sebagai media penyimpan adalah pias (lembaran kecil) selluloid yakni sejenis bahan plastik tipis yang dilapisi zat peka cahaya. Benda inilah yang selalu digunakan sebagai media penyimpan di awal pertumbuhan sinematografi. Film sebagai genre seni adalah produk sinematografi.

Cara saya belajar sinematografi dengan menonton film yang berjudul “Inception”. Film ini merupakan film yang sangat keren dan wajib untuk ditonton. Synopsis film ini bercerita tentang Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) merupakan seorang pencuri handal dan memiliki kemampuan unik tidak seperti pencuri-pencuri lainnya. Kemampuan Dom dalam seni ekstraksi ini membuat Dom mencuri barang dari korbannya melalui alam bawah sadar. Kemampuan Dom yang langka ini membuatnya didambakan oleh dunia baru spionase korporat yang berbahaya. Namun hal ini juga menjadikan Dom sebagai buronan internasional dan harus mengorbankan semua hal yang dia cintai. Kali ini, Dom mendapat tawaran sebagai kesempatan untuk penebusan kesalahan. Dom harus menyelesaikan satu pekerjaan yang dapat mengembalikan hidupnya seperti sedia kala.
 
Salah satu film revolusioner bagaimana kita bisa membajak mimpi ini memenangkan Best Cinematography untuk sinematografer Wally Pfister dan juga Best Visual Effect dalam ajang Oscar. Sinematografi kelas dunia ditunjukan oleh Wally dalam film ini, bagaimana membuat Inception menjadi film yang sangat intens dan mengagumkan dalam visualnya.

Menurut analisis saya mengenai film ini dilihat dari bentuk ceritanya, ada banyak sekali adegan flashback atau bahkan adegan-adegan ketika tokoh masuk ke dalam sebuah mimpi. Tetapi bahkan tanpa adanya fade in fade out ataupun transisi dalam perpindahan scene itu kita tetap bisa mengerti bahwa saat itu adegan telah berpindah ke scene yang lain. Itulah kenapa penonton haruslah benar-benar mencermati film ini, karena ketika fokus kita teralihkan sedangkan cerita tengah berpindah ke scene lain, dan bahwa poin penting dalam memahami perubahan adegan itu adalah dengan mencermati adegan tepat pada shot sebelumnya ketika adegan di cut ke shot lain, maka bisa dipastikan kita akan kehilangan arah mengenai kemana dan dimana adegan tersebut terjadi.




Cut dalam film Inception juga membantu penonton untuk memahami bahwa semua yang terjadi di setiap adegan bukan hanya sebuah mimpi atau bayangan masa lalu seperti yang diungkapkan film ini, tetapi film ini ingin mengajak penontonnya untuk merasakan semua pengalaman secara nyata bukan seolah sedang berada di dalam film. Itu juga ditunjang oleh penggunaan cut tanpa transisi dari satu adegan ketika masih di masa kini kemudian berpindah ke masa lalu atau bahkan ke dalam mimpi. Dengan penggunaan Cut kita jadi merasa bahwa ketika adegan diceritakan sedang berada di dalam mimpi yang kita rasakan bukan berada di dalam mimpi, tetapi tetap berada di dalam kehidupan nyata. 




Penggunaan transisi pada film ini ditambahkan untuk menekankan unsur dramatiknya bukan untuk penegasan bahwa waktu atau scene pada adegan telah berubah. Hal ini bisa dilihat dari tidak munculnya transisi-transisi ketika tokoh tengah berpindah dari kondisi sadar ke alam bawah sadar tetapi ada di bagian lain yang memunculkan bagian tersebut. Jika dilihat secara sekilas, bisa dibilang hal itu menghilangkan kekonsistenan dalam perpindahan scenenya, tetapi jika dilihat dari pola ceritanya, munculnya transisi dikarenakan emosi yang dialami pemainnya. Adegan ketika Cobb pada adegan ia akan melakukan tidur di dalam kamar hotel pada mimpi tingkat kedua dan di bagian itu ia terus-menerus mendapat gambaran mengenai waktu terakhir sebelum Mal bunuh diri, kemudian tiba-tiba terjadi transisi dan ia berada di atas gurun salju sebenarnya hanya untuk memperlihatkan bahwa saat itu kendali emosi yang dialami Cobb sedang dalam level yang tinggi sehingga bisa membahayakan timnya pada saat itu. Emosi yang ia rasakan kemudian ditabrakan pada transisi yang menandakan bahwa ia tiba-tiba kehilangan kesadaran dan langsung berada di gurun pasir. Adegan serupa tidak selalu terjadi di adegan lainnya ketika tokoh berpindah kea lam mimpi karena pada adegan yang lain tidak ada pergulatan emosi selama transisi itu berlangsung. Adapula penggunaan transisi dengan tujuan yang sama yaitu di bagian akhir ketika semua orang disentakkan untuk dibangunkan kembali. Selain didukung oleh musik yang dijadikan backsound pada proses tersebut, munculnya ritme yang cepat dan cerita dimana waktu menjadi pusat penceritaan membuat cerita menjadi tegang, sehingga transisi hanya digunakan untuk memberikan penekanan pada ketengan tersebut bukan secara sengaja digunakan sebagai jembatan perpindahan waktu.



Sedangkan fade in dan fade out tetap tidak digunakan hingga akhir cerita bahkan ketika cerita telah mencapai titik penghabisan cerita. Fade in atau fade out memberikan kesan adanya unsur ‘lebih lambat’ dari ritme penceritaan, tetapi Inception menggunakan ritme yang sangat cepat dalam penceritaannya sehingga memang harus benar-benar harus ikut berlari dalam mengikuti iramanya, itulah kenapa fade tidak digunakan sebagai transisi. Pada bagian akhir cerita ketika memasuki bagian credit title sekalipun tidak ada transisi wipe tetapi justru cut yang cepat yang digunakan dimana pada bagian tersebut ingin menekankan sebuah solusi yang harus dengan cepat diambil oleh penontonnya dan untuk memberikan dampak shock secara tiba-tiba.
 
Mempelajari sinematografi dengan menonton film ini sangat asik dan recommended banget. Buat kalian yang belum menonton film ini sangat wajib untuk kalian tonton.


1 comment:

  1. Tulisannya bagus, tapi gak sesuai dg tema tugas yg saya minta Karan. Yg saya minta ttg cara kreatif belajar sinematografi bukan minta menganalisis film...

    ReplyDelete